Pagi.
Gue punya insomnia. Cukup parah. Sering sekali gue dateng ke kampus tanpa tidur, atau justru tidak ke kampus karena memaksakan diri untuk tidur dan akhirnya malah kebablasan. Ini membuat gue sangat menderita karena secara otomatis hidup gue kebolak-balik. Iri, sumpah gue iri sama mereka yang dengan mudahnya ngantuk ketika hari menjadi gelap.
Tapi yang paling bikin gue mau nangis darah adalah karena gue gak pernah bisa menonton pagi. I mean, menonton apa yang orang-orang lakukan di jalan saat subuh. Dulu jamannya sekolah, gue masih bisa nikmatin suasana pagi di perjalanan ke sekolah meskipun tidak cukup memuaskan karena gue berangkat jam 6.30-an. Suasana yang paling gue suka adalah suasana subuh, which is sekitar jam 5-an. Itu yang paling oke. Langitnya cantik. Dinginnya pas. Nikmat.
Akhirnya pagi ini gue minta tolong sama Adhip untuk bawa gue keliling-keliling naik motor. Jam 5 pagi, setelah kami berdua selesai nonton DVD dan diskusi membahas mana yang lebih baik; menjomblo atau pacaran tapi diboongin terus sama pacar. I know, sebuah bahasan yang gak penting. Fun, though.
Menyenangkan, bener-bener menyenangkan. Melihat tampang slumber orang-orang di jalan; ibu-ibu yang berangkat belanja, bapak-bapak yang olahraga pagi, anak sekolah rajin yang berangkat jam 5 aja masih berasa kepagian (padahal ini hari Sabtu, ngapain ya itu anak berangkat pagi banget? bukannya libur?), tukang sayur yang bosan melihat bayam dan kangkung tapi tetap menatapnya penuh syukur karena darisanalah ia hidup, serta orang-orang lain yang bergegas ke masjid untuk shalat atau sudah mulai mencari nafkah di hari sepagi ini. Ketika lingkungan kecil ini masih terasa seperti kota mati, ketika sebagian besar orang masih nyangkut di bantal, mereka sudah keluar rumah. Sudah memulai sesuatu meski beresiko keserempet kendaraan karena nyetir atau jalan sambil tidur.
Ini menyenangkan. Really. Menyenangkan melihat orang-orang berjuang sedemikian rupa untuk memulai hari lebih awal. Menyenangkan melihat mereka melakukan hal yang harus mereka lakukan meski mungkin terpaksa--sesuatu yang gak pernah bisa gue kompromikan dengan baik (dipaksa). Menyenangkan mengira-ngira isi otak tetangga dari ekspresi mereka ketika melihat gue naik motor berdua sama Adhip sepagi itu; gue dikira binal gak ya? kalo iya, ngaruh gak ya sama idup gue?
The beauty of dawn has never failed to cheer me up. Same goes with hujan. Bedanya, dengan hujan gue hanya bisa menunggu dia datang. Sedangkan dengan subuh, gue selalu bisa mendapatkannya. Gue lah yang tidak mampu atau terlalu malas. Makanya gue sangat girang kalau hujan turun subuh-subuh. Itu surga dunia, man.
I wish I know how to be cured from insomnia. Kangen juga ngerasain matahari yang belom panas gila-gilaan sampe bikin otak mateng. Pagi. Pagi. Pagi. Tiba-tiba gue jadi melankolis gini gara-gara pagi.
Besok jalan-jalan pagi lagi, ah. Jalan kaki, sendirian aja...
Tapi yang paling bikin gue mau nangis darah adalah karena gue gak pernah bisa menonton pagi. I mean, menonton apa yang orang-orang lakukan di jalan saat subuh. Dulu jamannya sekolah, gue masih bisa nikmatin suasana pagi di perjalanan ke sekolah meskipun tidak cukup memuaskan karena gue berangkat jam 6.30-an. Suasana yang paling gue suka adalah suasana subuh, which is sekitar jam 5-an. Itu yang paling oke. Langitnya cantik. Dinginnya pas. Nikmat.
Akhirnya pagi ini gue minta tolong sama Adhip untuk bawa gue keliling-keliling naik motor. Jam 5 pagi, setelah kami berdua selesai nonton DVD dan diskusi membahas mana yang lebih baik; menjomblo atau pacaran tapi diboongin terus sama pacar. I know, sebuah bahasan yang gak penting. Fun, though.
Menyenangkan, bener-bener menyenangkan. Melihat tampang slumber orang-orang di jalan; ibu-ibu yang berangkat belanja, bapak-bapak yang olahraga pagi, anak sekolah rajin yang berangkat jam 5 aja masih berasa kepagian (padahal ini hari Sabtu, ngapain ya itu anak berangkat pagi banget? bukannya libur?), tukang sayur yang bosan melihat bayam dan kangkung tapi tetap menatapnya penuh syukur karena darisanalah ia hidup, serta orang-orang lain yang bergegas ke masjid untuk shalat atau sudah mulai mencari nafkah di hari sepagi ini. Ketika lingkungan kecil ini masih terasa seperti kota mati, ketika sebagian besar orang masih nyangkut di bantal, mereka sudah keluar rumah. Sudah memulai sesuatu meski beresiko keserempet kendaraan karena nyetir atau jalan sambil tidur.
Ini menyenangkan. Really. Menyenangkan melihat orang-orang berjuang sedemikian rupa untuk memulai hari lebih awal. Menyenangkan melihat mereka melakukan hal yang harus mereka lakukan meski mungkin terpaksa--sesuatu yang gak pernah bisa gue kompromikan dengan baik (dipaksa). Menyenangkan mengira-ngira isi otak tetangga dari ekspresi mereka ketika melihat gue naik motor berdua sama Adhip sepagi itu; gue dikira binal gak ya? kalo iya, ngaruh gak ya sama idup gue?
The beauty of dawn has never failed to cheer me up. Same goes with hujan. Bedanya, dengan hujan gue hanya bisa menunggu dia datang. Sedangkan dengan subuh, gue selalu bisa mendapatkannya. Gue lah yang tidak mampu atau terlalu malas. Makanya gue sangat girang kalau hujan turun subuh-subuh. Itu surga dunia, man.
I wish I know how to be cured from insomnia. Kangen juga ngerasain matahari yang belom panas gila-gilaan sampe bikin otak mateng. Pagi. Pagi. Pagi. Tiba-tiba gue jadi melankolis gini gara-gara pagi.
Besok jalan-jalan pagi lagi, ah. Jalan kaki, sendirian aja...



0 confused man:
Post a Comment