"I was born with an enormous need for affection, and a terrible need to give it." - Audrey Hepburn

Let Me Take You Down

31 Desember 2010, berawal pukul 00.00, gue melakukan sebuah perjalanan bersama Mabrur dan Ilyas. Sepanjang perjalanan itu gue dengerin satu lagu, on loop, ga ada bosennya. Supaya berasa, buffer lagu ini sambil baca deh.





Ini adalah gambar yang dibuat Mabrur.


 

Bagi dia, perjalanan itu sudah dimulai kira-kira sejam sebelumnya, dalam zona yang ada tulisan M's. Makanya ketika kami ada dalam zona berbulatan putih, berlokasi di sebuah warung kopi, dimana bagi gue dan Ilyas perjalanan baru dimulai, dia sudah menggambar :



Dalam zona polos, di sebelah zona berbulatan putih, kami jalan-jalan mengelilingi daerah Cijantung. Entah apa yang ada di pikiran masing-masing waktu itu. Yang gue inget, Ilyas minta sama Mabrur untuk leading ke daerah yang banyak pohonnya. 

Dalam zona yang diarsir dan diberi coretan spiral, kami udah balik lagi ke warung kopi tadi. Ilyas sibuk bermain cahaya. Dia bilang, kalo bola lampu kuning, cahayanya bisa ditarik mendekat dan bahkan bisa ditangkep. Kalo bola lampu putih, nggak bisa. Well, good luck with your imagination, old pal.

Gue nulis banyak banget. Atau mungkin lebih tepatnya gue merasa udah nulis banyak banget. Pulpen dan note mabrur jadi sasaran.




Gue dan Mabrur berkontemplasi dengan teori-teori di kepala masing-masing. Here goes :


Theoria #1 : Rokok, dimana, ujungnya memiliki panas yang lebih dari 100 derajat Celcius, tapi dia tidak bisa merebus air. Lalu, kenapa bisa? Karena dia bara, bukan api! - Mabrur Herza in Utter Space
Theoria #2 : Human are big creatures, so whoever they are, whoever their families are, the world would always be too small for them." - Azka, somewhere only she knows

Mabrur merasa itu belum cukup, ketika kemudian dia menulis lagi :


Di "Soerabi" (sebuah tempat makan)? Bikin surabi pake bara? tapi bisa bikin surabi itu meleleh. Kenapa bisa? Itu bara bisa! --> Woi! Rokok, baranya, biar 300 derajat Celcius kek, Dia, Kecil. - Mabrur Herza in Utter Space #2

Sebetulnya ada satu tulisan lagi yang gue buat, for someone special. Gue robek dari notes nya Mabrur. Jadi si kertas kebelah dua sekarang. Kalo tu kertas emang jodoh, robekannya bakal ketemu lagi ntar. Entah berapa tahun lagi.


Mabrur dua kali jalan kaki entah kemana. Sampe belanja ke AlfaMart segala. Dia juga menggambar.





Di zona putih polos, di sebelah zona berspiral, adalah saat kami bergerak dari warung kopi. Ngisi bensin di Margonda Raya, berkeliling lagi di daerah Cijantung. Saat itu gue baru mengerti kenapa Ilyas minta daerah yang banyak pohonnya. Indah banget ngeliat pohon-pohon berlalu di kanan-kiri ketika motor lagi jalan. Dan disitu juga gue tiba-tiba kangen berat sama nyokap. Bahkan sampe nangis di jalan. Tapi tetep aja, biarpun nangis, bibir tetep senyum.


Zona berbulatan hitam adalah aftermath. Disana gue mulai recall semua ingatan. Ternyata sepanjang perjalanan itu, gue memang nulis melulu. Di handphone :


#1 Orang boleh bilang "I know you". Terserah. But heck, nobody really knows who I am! Not even my family! They only get the closest, or the vicinity, but not exactly.
#2 Penghabisan bulan, ya? Bulannya keliatan seperti ujung kuku. Dan sekarang pukul 5.33, dia masih keliatan. Gantian dong sama matahari, jangan serakaaaah. 

Di twitter :


Aftermath itu berlokasi di sebuah warung kopi juga, tapi warung kopi yang berbeda. Ada satu poster yang bikin gue ngakak karena tulisannya lucu menurut gue :


sebuah poster iklan handphone dengan tulisan TOOT besar diatasnya

Mabrur menempel bon belanjaan dia di Alfamart disitu. Lengkap bersama kembaliannya. 




Dari sana, kami pulang. Gue masih senyum sepanjang jalan, seneng karena perjalanan malam ini oke banget. Dan seneng juga karena pulang berarti ketemu nyokap. I miss her like hell. Sepanjang jalan gue ngeliat ke kaca spion melulu. Juga sibuk foto-foto pake kamera handphone, meskipun hasilnya ga beres semua, haha.








Ketika sampai di rumah, setelah Mabrur dan Ilyas pulang, gue masuk kamar dan ganti baju. Kemudian noleh ke kaca. Disana ada anak perempuan balik ngeliatin gue sambil senyum. Kami saling pandang beberapa saat. Gue kenal dia, dia adalah sahabat gue sejak kecil. Nggak pernah ilang ketika gue butuhkan, dan satu-satunya yang tau persis apa yang gue mau dan tidak mau. 


Gue ketawa kecil dan dia juga ketawa kecil. Setelah itu, kami sama-sama bilang, "Thank you for tonight. I love you."

0 confused man: