Your Shoe Doesn't Fit Me Right
Udah lama ga nulis agak "beres". Akhir-akhir ini postingan gue berisi sampah. Time to write a bit serious.
Gue berjenis kelamin perempuan. Terserah mau nuduh gue boong atau mau bilang casing gue salah, tapi yang jelas gue yakin 100% guemasih perempuan. Dan sebuah saying telah membuat gue sangat sedih:
"Perempuan itu kodratnya nunggu. Tugasnya cuma dandan, mempercantik diri, supaya cowok pada doyan. Kalo cewek terlalu pinter, jatohnya intimidating."
Alamakjaaang. Sedih banget gue. Secara implisit, si orang itu mau bilang sama gue bahwa yang namanya cewek gausah banyak mikir. Tinggal jual tampang, ngangkang, kelar.
Ya ampun. Kasian Kartini. Kalo bisa mati lagi, dia pasti udah mati gara-gara sakit hati. Man, menurut gue, yang namanya otak itu lebih seksi dari apapun. Orang yang smart bakal keliatan beda. Dari cara bicara, bertindak, bersikap, dan bahkan dari sinar matanya. Other than that, menjadi pintar/pandai/cerdas itu gak akan pernah ada ruginya dalam hal apapun dan untuk siapapun.
Sekarang gue tanya sama cowok-cowok. Apa ruginya punya cewek pinter? Justru elo jadi termotivasi untuk maju karena gak mau kalah. Cewek pinter juga punya kuota "irasionalitas" yang lebih sedikit. Ada, tapi gak banyak. Yang gue maksud irasionalitas adalah kecendrungan marah ga penting hanya karena hal-hal kecil. Ketika itu cewek lo nikahin juga pasti lebih enak, karena perempuan pintar ga akan menghamburkan uang lo buat hal-hal yang ga signifikan. Dia juga akan cepat tanggap sama lelahnya elo sepulang kerja. Paling penting, dia akan tahu gimana caranya mengasuh anak-anak lo dengan baik.
Ada lagi satu saying yang mendebat gue:
"Cewek kan emang pada dasarnya lebih emosional. Less rational than men. So just leave it that way to make it equal."
Okay, mungkin benar bahwa perempuan itu lebih dikuasai emosi daripada laki-laki. Gue perempuan dan gue tau itu, karena betapapun kerasnya gue berusaha rasional, selalu ada momen dimana gue kebawa emosi. It's beautiful, sometimes, being led by your emotions. Tapi nggak berarti perempuan nggak boleh pake otak, kan? Menurut gue, yang namanya cewek itu bisa jadi player atau kejebak sama player karena lupa pake otak. Alasannya? Coba pikir sendiri.
Kemudian gue ditiban lagi sama omongan:
"Udah banyak orang pinter tapi ga punya hati, dan mereka cuma bikin dunia makin ancur."
Hey, siapa yang bilang bahwa pinter berarti ga punya hati? Gue sendiri selalu kasih analogi DVD; hati adalah filmnya, dan otak adalah bonus feature-nya. DVD tanpa bonus feature akan mengurangi daya tarik dan kenyamanan menonton (karena ga ada subtitle atau audio options, mungkin). Sedangkan DVD tanpa film ga ada gunanya. Cuma sebuah piringan yang bolong tengahnya.
Ternyata masih didebat lagi:
"Cinta itu emang bikin orang jadi bodoh. Udah darisananya."
Aduh. Cinta itu ada bukan untuk bikin orang jadi downgrade. Cinta itu seharusnya membangun. Cinta Tuhan sama lo membuat elo hidup dengan segala hal yang elo butuhkan, meski kadang bukan yang elo inginkan. Sebaliknya, cinta lo pada Tuhan membuat lo mikir-mikir untuk cabut dari "jalan yang benar". Cinta orangtua pada lo, membuat mereka marah kalo lo ngaco. Membuat mereka tetep kerja banting tulang meski lo bengal, pemalas, kacau balau dan sering pura-pura tidur kalo dimintain tolong. Sebaliknya, coba pikir sendiri apa efek kecintaan lo pada orangtua lo. Males gue ngetiknya.
Kalo cinta membuat orang jadi bodoh, berarti apa bedanya cinta sama ganja? Kenapa ga dibikin ilegal juga sama pemerintah? Kalo gitu mah mending gue ngeganja daripada jatuh cinta. Lebih simpel, modal korek doang.
Purpose dari tulisan sepanjang ini adalah untuk bilang bahwa gue ingin orang-orang, termasuk gue, sama-sama belajar valuating diri sendiri dan orang lain dengan lebih baik. Elu manusia, jangan sampe cuma modal insting doang. Itu mah hewan. Dan juga karena elu manusia, jangan sampe hati ga dipake. Itu berarti lo kalah sama hewan.
Balance itu terjadi dalam diri lo sendiri, bukan ketika elo bertemu orang lain. Tugas orang lain bukanlah menyeimbangkan elo, tapi melengkapi elo.
But it's okay if you disagree, it's you and your life, not mine. And this is my blog, not yours.
Gue berjenis kelamin perempuan. Terserah mau nuduh gue boong atau mau bilang casing gue salah, tapi yang jelas gue yakin 100% gue
"Perempuan itu kodratnya nunggu. Tugasnya cuma dandan, mempercantik diri, supaya cowok pada doyan. Kalo cewek terlalu pinter, jatohnya intimidating."
Alamakjaaang. Sedih banget gue. Secara implisit, si orang itu mau bilang sama gue bahwa yang namanya cewek gausah banyak mikir. Tinggal jual tampang, ngangkang, kelar.
Ya ampun. Kasian Kartini. Kalo bisa mati lagi, dia pasti udah mati gara-gara sakit hati. Man, menurut gue, yang namanya otak itu lebih seksi dari apapun. Orang yang smart bakal keliatan beda. Dari cara bicara, bertindak, bersikap, dan bahkan dari sinar matanya. Other than that, menjadi pintar/pandai/cerdas itu gak akan pernah ada ruginya dalam hal apapun dan untuk siapapun.
Sekarang gue tanya sama cowok-cowok. Apa ruginya punya cewek pinter? Justru elo jadi termotivasi untuk maju karena gak mau kalah. Cewek pinter juga punya kuota "irasionalitas" yang lebih sedikit. Ada, tapi gak banyak. Yang gue maksud irasionalitas adalah kecendrungan marah ga penting hanya karena hal-hal kecil. Ketika itu cewek lo nikahin juga pasti lebih enak, karena perempuan pintar ga akan menghamburkan uang lo buat hal-hal yang ga signifikan. Dia juga akan cepat tanggap sama lelahnya elo sepulang kerja. Paling penting, dia akan tahu gimana caranya mengasuh anak-anak lo dengan baik.
Ada lagi satu saying yang mendebat gue:
"Cewek kan emang pada dasarnya lebih emosional. Less rational than men. So just leave it that way to make it equal."
Okay, mungkin benar bahwa perempuan itu lebih dikuasai emosi daripada laki-laki. Gue perempuan dan gue tau itu, karena betapapun kerasnya gue berusaha rasional, selalu ada momen dimana gue kebawa emosi. It's beautiful, sometimes, being led by your emotions. Tapi nggak berarti perempuan nggak boleh pake otak, kan? Menurut gue, yang namanya cewek itu bisa jadi player atau kejebak sama player karena lupa pake otak. Alasannya? Coba pikir sendiri.
Kemudian gue ditiban lagi sama omongan:
"Udah banyak orang pinter tapi ga punya hati, dan mereka cuma bikin dunia makin ancur."
Hey, siapa yang bilang bahwa pinter berarti ga punya hati? Gue sendiri selalu kasih analogi DVD; hati adalah filmnya, dan otak adalah bonus feature-nya. DVD tanpa bonus feature akan mengurangi daya tarik dan kenyamanan menonton (karena ga ada subtitle atau audio options, mungkin). Sedangkan DVD tanpa film ga ada gunanya. Cuma sebuah piringan yang bolong tengahnya.
Ternyata masih didebat lagi:
"Cinta itu emang bikin orang jadi bodoh. Udah darisananya."
Aduh. Cinta itu ada bukan untuk bikin orang jadi downgrade. Cinta itu seharusnya membangun. Cinta Tuhan sama lo membuat elo hidup dengan segala hal yang elo butuhkan, meski kadang bukan yang elo inginkan. Sebaliknya, cinta lo pada Tuhan membuat lo mikir-mikir untuk cabut dari "jalan yang benar". Cinta orangtua pada lo, membuat mereka marah kalo lo ngaco. Membuat mereka tetep kerja banting tulang meski lo bengal, pemalas, kacau balau dan sering pura-pura tidur kalo dimintain tolong. Sebaliknya, coba pikir sendiri apa efek kecintaan lo pada orangtua lo. Males gue ngetiknya.
Kalo cinta membuat orang jadi bodoh, berarti apa bedanya cinta sama ganja? Kenapa ga dibikin ilegal juga sama pemerintah? Kalo gitu mah mending gue ngeganja daripada jatuh cinta. Lebih simpel, modal korek doang.
Purpose dari tulisan sepanjang ini adalah untuk bilang bahwa gue ingin orang-orang, termasuk gue, sama-sama belajar valuating diri sendiri dan orang lain dengan lebih baik. Elu manusia, jangan sampe cuma modal insting doang. Itu mah hewan. Dan juga karena elu manusia, jangan sampe hati ga dipake. Itu berarti lo kalah sama hewan.
Balance itu terjadi dalam diri lo sendiri, bukan ketika elo bertemu orang lain. Tugas orang lain bukanlah menyeimbangkan elo, tapi melengkapi elo.
But it's okay if you disagree, it's you and your life, not mine. And this is my blog, not yours.



0 confused man:
Post a Comment