Friend vs Money
Okay, I'm pissed off. Pissed off and fed up. Gue gak ngerti isi otak orang gila yang bisa-bisanya perhitungan sama temen sendiri. Apalagi kalau si temennya ini udah sebegitu baik dan murah hati. Gue tau kok, yang namanya temen itu mungkin gak bisa selalu sama-sama. Dan gue juga tau, seberapapun deketnya kita sama temen, pada akhirnya hidup kita akan berjalan sendiri-sendiri. Ketika gue cabut kuliah bareng temen-temen, gue tau bahwa pada akhirnya yang harus menanggung nilai jelek adalah gue dan si teman-teman ini nggak bisa disalahkan.
Tapi, halo, balik lagi ke kenyataan bahwa kita nggak hidup di hutan. Lo akan butuh bantuan seseorang dan seseorang akan butuh bantuan lo. Mana bisa lo hidup sendiri?
Makanya, gue selalu menganggap bahwa teman itu nilainya lebih tinggi dari uang. Itu yang membuat gue gak pernah perhitungan soal rokok, soal makanan, ataupun fresh money yang gue keluarkan untuk mereka. Karena gue tahu, ketika pada gilirannya gue-lah yang butuh, mereka bakal ganti menolong gue.
Tentu aja gue harus yakin dulu siapa yang bisa gue percaya, siapa yang benar teman dan siapa yang bukan. Gue juga harus yakin dulu bahwa mereka memang lebih butuh bantuan daripada gue pada saat itu. Gue akan dengan jujur bilang nggak punya uang kalau memang pada saat itu ga ada uang lebih.
Kenapa, KENAPA masih ada aja orang yang nodong temennya sendiri? KENAPA masih ada orang yang bilang "goceng dulu baru gue tolongin."? Anjrit, pamrih banget lo. Sedangkan teman-teman lo, apa pernah pamrih sama lo? Kekesalan ini terjadi bukan karena gue ingin dibalas kebaikannya, tapi karena gue MUAK melihat ada orang yang sebegitu oportunis. Yang menerima kebaikan orang bukan untuk take and give, tapi untuk dimanfaatkan.
Again, gue menganggap bahwa teman itu nilainya lebih tinggi dari uang. Tapi untuk orang-orang se-oportunis itu, gue menganggap nilai mereka JAUH lebih rendah dari satu sen uang.
Screw you, fucker.
Tapi, halo, balik lagi ke kenyataan bahwa kita nggak hidup di hutan. Lo akan butuh bantuan seseorang dan seseorang akan butuh bantuan lo. Mana bisa lo hidup sendiri?
Makanya, gue selalu menganggap bahwa teman itu nilainya lebih tinggi dari uang. Itu yang membuat gue gak pernah perhitungan soal rokok, soal makanan, ataupun fresh money yang gue keluarkan untuk mereka. Karena gue tahu, ketika pada gilirannya gue-lah yang butuh, mereka bakal ganti menolong gue.
Tentu aja gue harus yakin dulu siapa yang bisa gue percaya, siapa yang benar teman dan siapa yang bukan. Gue juga harus yakin dulu bahwa mereka memang lebih butuh bantuan daripada gue pada saat itu. Gue akan dengan jujur bilang nggak punya uang kalau memang pada saat itu ga ada uang lebih.
Kenapa, KENAPA masih ada aja orang yang nodong temennya sendiri? KENAPA masih ada orang yang bilang "goceng dulu baru gue tolongin."? Anjrit, pamrih banget lo. Sedangkan teman-teman lo, apa pernah pamrih sama lo? Kekesalan ini terjadi bukan karena gue ingin dibalas kebaikannya, tapi karena gue MUAK melihat ada orang yang sebegitu oportunis. Yang menerima kebaikan orang bukan untuk take and give, tapi untuk dimanfaatkan.
Again, gue menganggap bahwa teman itu nilainya lebih tinggi dari uang. Tapi untuk orang-orang se-oportunis itu, gue menganggap nilai mereka JAUH lebih rendah dari satu sen uang.
Screw you, fucker.



0 confused man:
Post a Comment