Minta Pin BB Dong!
Biasanya kalo dimintain kayak gitu gue hanya bisa senyum sambil bilang "Gue nggak pake BB."
Dan biasanya reaksi orang yang tadi minta adalah sebuah ekspresi tertentu yang secara nonverbal berkata "What? Elo nggak pake BB? Hare geneee? Plis deeeeeeewch."
Setelah trend BlackBerry berkembang di Indonesia, gue menilai dan menimbang. Hasilnya: gue nggak butuh BB. Yah terserahlah mau dibilang arogan, sok idealis, atau sok beda. Whatever. Gue memang nggak butuh, kok. Jadi, gue nggak pake.
Tidak memakai BB akhirnya menjadi prinsip tersendiri karena gue melihat betapa antisosial teman-teman gue sejak pake BB. Ngobrol sama gue tapi mata ke BB. Irritating. Kalo gue pake BB, takutnya gue akan seperti itu juga. Lebih baik gue nggak pake BB daripada memperlakukan orang lain seperti gue diperlakukan BB users ini.
I closed a deal with myself. No BlackBerry Principal is now applied. Sekaligus juga ada sedikit ego yang ingin membuktikan bahwa gue bisa hidup tanpa BB.
Nah, akhir-akhir ini gue baru merasakan efek no-BB atau Pin-less.
Yaitu, termarjinalkan.
Ternyata bukan hanya gue yang merasa seperti itu. Temen gue juga. Pagi tadi dia menulis begini di Twitter:
Sungguh sebuah Tweet yang mencolek hati gue. Maka gue reply dan terjadilah percakapan ini (baca dari paling bawah):
Yea, right. Alienated.
Kejam bener yang namanya trend itu. Bisa bikin orang jadi pushed away hanya karena sebuah gadget. Betapa gilanya BlackBerry Messenger merubah gaya hidup dan gaya komunikasi orang.
Gue teralienasi. Termarjinalkan dari banyak sekali percakapan.
I'm guilty. For what charge? Pin-less.
Ya sudahlah. Gue akan tetap dengan prinsip tadi. Setidaknya sampai prinsip itu porak poranda karena badai BlackBerry yang makin menggila.
Ketika saat itu tiba, ada 2 pilihan: lari ke ITC terdekat dan beli BB atau pergi ke negara maju dan menjadi warga negaranya.
Kalau tiba-tiba Tuhan pake BB, ada 2 pilihan: lari ke ITC terdekat dan beli BB atau pergi ke negara yang lagi berperang, menjadi warga negara disana, dan ikut ke medan perang. Mati.
Sekarang gue sedang menilai dan menimbang apa yang Android bisa berikan untuk gue. Sejauh ini sih, positif.
Well, lets see.
Dan biasanya reaksi orang yang tadi minta adalah sebuah ekspresi tertentu yang secara nonverbal berkata "What? Elo nggak pake BB? Hare geneee? Plis deeeeeeewch."
Setelah trend BlackBerry berkembang di Indonesia, gue menilai dan menimbang. Hasilnya: gue nggak butuh BB. Yah terserahlah mau dibilang arogan, sok idealis, atau sok beda. Whatever. Gue memang nggak butuh, kok. Jadi, gue nggak pake.
Tidak memakai BB akhirnya menjadi prinsip tersendiri karena gue melihat betapa antisosial teman-teman gue sejak pake BB. Ngobrol sama gue tapi mata ke BB. Irritating. Kalo gue pake BB, takutnya gue akan seperti itu juga. Lebih baik gue nggak pake BB daripada memperlakukan orang lain seperti gue diperlakukan BB users ini.
I closed a deal with myself. No BlackBerry Principal is now applied. Sekaligus juga ada sedikit ego yang ingin membuktikan bahwa gue bisa hidup tanpa BB.
Nah, akhir-akhir ini gue baru merasakan efek no-BB atau Pin-less.
Yaitu, termarjinalkan.
Ternyata bukan hanya gue yang merasa seperti itu. Temen gue juga. Pagi tadi dia menulis begini di Twitter:
Sungguh sebuah Tweet yang mencolek hati gue. Maka gue reply dan terjadilah percakapan ini (baca dari paling bawah):
Yea, right. Alienated.
Kejam bener yang namanya trend itu. Bisa bikin orang jadi pushed away hanya karena sebuah gadget. Betapa gilanya BlackBerry Messenger merubah gaya hidup dan gaya komunikasi orang.
Gue teralienasi. Termarjinalkan dari banyak sekali percakapan.
I'm guilty. For what charge? Pin-less.
Ya sudahlah. Gue akan tetap dengan prinsip tadi. Setidaknya sampai prinsip itu porak poranda karena badai BlackBerry yang makin menggila.
Ketika saat itu tiba, ada 2 pilihan: lari ke ITC terdekat dan beli BB atau pergi ke negara maju dan menjadi warga negaranya.
Kalau tiba-tiba Tuhan pake BB, ada 2 pilihan: lari ke ITC terdekat dan beli BB atau pergi ke negara yang lagi berperang, menjadi warga negara disana, dan ikut ke medan perang. Mati.
Sekarang gue sedang menilai dan menimbang apa yang Android bisa berikan untuk gue. Sejauh ini sih, positif.
Well, lets see.





2 confused man:
still 0 confused man huh
mau komen juga komen apa gue ka -___-
tanggapan gue sudah ada di blog gue
hahahah
gue rasa sih pembaca2 blog gue ini cukup malas untuk memberi comment karena sebagian besar BB user hahaha. itu hit counter menipu apa pembaca2 gue ga kritis?
Post a Comment