Twitt-err
Siapa yang nggak punya account di Twitter tolong angkat tangan.
Sedikit sekali.
Mulanya gue nggak ingin punya account di Twitter. Gue baru memutuskan untuk bikin account karena waktu itu ada taruhan sinting antara temen-temen gue, yang bahkan gue udah lupa apa taruhannya. Dari situ akhirnya malah keterusan.
Menurut artikel di Wikipedia, Twitter adalah sebuah web dengan konsep microblogging sekaligus social network. Jadi adalah suatu hal yang sangat biasa kalau disana orang-orang saling curhat, ngobrol, bahkan quoting kata-kata orang lain (baik yang masih idup ataupun udah almarhum). Sangat, sangat biasa.
Tapi akhir-akhir ini gue jadi merasa keganggu dan gak nyaman disana. Aneh banget diminta following orang yang nggak gue kenal. Hei, gue gak tau siapa elo. Kenapa juga gue harus update sama curhatan-curhatan lo, vice versa? Kenapa juga kalo gue nggak mau following elo, gue dibilang sombong?
Yang bener-bener bikin gue gak nyaman adalah bahwa Twitter bisa dengan mudah membuat 2 orang yang tadinya baik-baik aja menjadi musuh. Yah mungkin ini emang penyakitnya social network kali, ya. Tapi Twitter mempermudah itu karena dia adalah sebuah social network yang isinya 90% kata-kata. Salah intonasi aja bisa bikin ribut. Nggak penting banget.
Gue juga rada irritated sama orang-orang yang me-reply kalimat gue disana dengan sok wise, padahal dia nggak ngerti kondisi gue sebenarnya seperti apa. Benar apa kata Alanda Kariza, Twitter adalah tempat dimana orang berusaha kelihatan cool dengan kata-katanya, bukan dengan penampilannya. Dan karena itulah, muncul banyak orang yang sok wise. Padahal bisanya cuma me-retweet quote orang.
Bagi orang-orang yang pengecut, Twitter adalah tempat yang sangat menyenangkan. Disana mereka bisa stalking sesuka hati. Tidak perlu bertemu dengan orangnya langsung, cukup baca tweet-tweet dia, dan voila! elo tau dia kemana, ngapain aja, bersama siapa hari ini. Kalo lagi kesel sama orang malah lebih gampang lagi. Bikin aja tweet tanpa mention dan maki-makilah orang tersebut sepuas hati. Mau cari perhatian? Apalagi. Gampang banged pake d.
Irritating, really. I start to get easily disturbed by unnecessary tweets. Who needs to know what you're doing every single minute? You're not that interesting, you know.
So for now I think I need to decide whether to take a long tweet rest or just to deactivate the account. Atau, hindari jam-jam sibuk. Buka Twitter hanya pada jam sepi aja. Seperti manusia gua.
Sedikit sekali.
Mulanya gue nggak ingin punya account di Twitter. Gue baru memutuskan untuk bikin account karena waktu itu ada taruhan sinting antara temen-temen gue, yang bahkan gue udah lupa apa taruhannya. Dari situ akhirnya malah keterusan.
Menurut artikel di Wikipedia, Twitter adalah sebuah web dengan konsep microblogging sekaligus social network. Jadi adalah suatu hal yang sangat biasa kalau disana orang-orang saling curhat, ngobrol, bahkan quoting kata-kata orang lain (baik yang masih idup ataupun udah almarhum). Sangat, sangat biasa.
Tapi akhir-akhir ini gue jadi merasa keganggu dan gak nyaman disana. Aneh banget diminta following orang yang nggak gue kenal. Hei, gue gak tau siapa elo. Kenapa juga gue harus update sama curhatan-curhatan lo, vice versa? Kenapa juga kalo gue nggak mau following elo, gue dibilang sombong?
Yang bener-bener bikin gue gak nyaman adalah bahwa Twitter bisa dengan mudah membuat 2 orang yang tadinya baik-baik aja menjadi musuh. Yah mungkin ini emang penyakitnya social network kali, ya. Tapi Twitter mempermudah itu karena dia adalah sebuah social network yang isinya 90% kata-kata. Salah intonasi aja bisa bikin ribut. Nggak penting banget.
Gue juga rada irritated sama orang-orang yang me-reply kalimat gue disana dengan sok wise, padahal dia nggak ngerti kondisi gue sebenarnya seperti apa. Benar apa kata Alanda Kariza, Twitter adalah tempat dimana orang berusaha kelihatan cool dengan kata-katanya, bukan dengan penampilannya. Dan karena itulah, muncul banyak orang yang sok wise. Padahal bisanya cuma me-retweet quote orang.
Bagi orang-orang yang pengecut, Twitter adalah tempat yang sangat menyenangkan. Disana mereka bisa stalking sesuka hati. Tidak perlu bertemu dengan orangnya langsung, cukup baca tweet-tweet dia, dan voila! elo tau dia kemana, ngapain aja, bersama siapa hari ini. Kalo lagi kesel sama orang malah lebih gampang lagi. Bikin aja tweet tanpa mention dan maki-makilah orang tersebut sepuas hati. Mau cari perhatian? Apalagi. Gampang banged pake d.
Irritating, really. I start to get easily disturbed by unnecessary tweets. Who needs to know what you're doing every single minute? You're not that interesting, you know.
So for now I think I need to decide whether to take a long tweet rest or just to deactivate the account. Atau, hindari jam-jam sibuk. Buka Twitter hanya pada jam sepi aja. Seperti manusia gua.



0 confused man:
Post a Comment