Mejikuhibiniu
Ada hujan yang merintik di matamu. Aku diam menatap lekat karena berharap melihat pelangi mejikuhibiniu. Karena sejauh yang kutahu, mejikuhibiniu dihadirkan oleh tetesan air dan binar cahaya. Dan matamu, selalu berbinar-binar.
Hujan merintik dan menderas di matamu. Menetes demi mendung yang dia ciptakan. Mendung yang akhirnya kautanggung sendiri dan menjadi berat. Aku hanya sanggup mencintai satu laki-laki, katamu. Seumur hidupku hanya ada laki-laki itu, katamu. Yang benar saja. Lalu aku ini apa?
Dalam sekejap terjadi badai di matamu. Rasanya binar-binar disana meredup. Apa kata mereka? Badai pasti berlalu. Jadi tenang saja. Kau takkan selamanya bergemuruh. Hidupmu belum kiamat. Mengapa masih juga kaubawa mendung itu? Lupakah padaku? Aku. Masih ada aku.
Aku, yang tidak juga bergeming.
Masih diam. Menunggu mejikuhibiniu. Untukku.
Hujan merintik dan menderas di matamu. Menetes demi mendung yang dia ciptakan. Mendung yang akhirnya kautanggung sendiri dan menjadi berat. Aku hanya sanggup mencintai satu laki-laki, katamu. Seumur hidupku hanya ada laki-laki itu, katamu. Yang benar saja. Lalu aku ini apa?
Dalam sekejap terjadi badai di matamu. Rasanya binar-binar disana meredup. Apa kata mereka? Badai pasti berlalu. Jadi tenang saja. Kau takkan selamanya bergemuruh. Hidupmu belum kiamat. Mengapa masih juga kaubawa mendung itu? Lupakah padaku? Aku. Masih ada aku.
Aku, yang tidak juga bergeming.
Masih diam. Menunggu mejikuhibiniu. Untukku.



0 confused man:
Post a Comment