sanggup?
Ketika seorang teman bilang begini :
Mungkin lo akan berani menjawab begini :
Lo tau, lo mungkin gak akan bener-bener merasa sedih juga. Karena dialah yang mengalami. Kalaupun dia ceritakan penyebab sedihnya, efeknya tidak akan sama pada diri lo. Tapi lo ingin ada bersama dia untuk, at least, sepersekian hari. Untuk setidaknya membuat dia lupa sedang ditempeli rasa sedih. Supaya setidaknya dia tidak ditempeli rasa sedih dan sepi sekaligus.
Tapi ketika dia bilang :
Apa lo berani menjawab :
Karena ketika seorang teman bilang begitu, lo tau bahwa mungkin lo nggak akan bener-bener merasa senang juga. Karena dialah yang mengalami. Kalaupun dia ceritakan penyebab kebahagiaannya, efeknya tidak akan sama pada diri lo. Tapi lo ingin ada bersama dia untuk, at least, sepersekian hari. Untuk setidaknya membuat dia tidak lupa sedang ditempeli kebahagiaan. Supaya setidaknya kebahagiaan dia benar-benar utuh, tanpa kecuali dan tanpa tapi.
Sekali lagi, apa lo berani berkata demikian pada kasus kedua?
Jangan takabur berkata bahwa itu adalah hal mudah. Kadang sesuatu yang lo remehkan adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa lo atasi.
Tanpa sadar, yang lebih mudah dan sering terjadi adalah kita
"mengurangi kebahagiaan seseorang",
dan bukan kita
"mengurangi kepedihan seseorang".
Rasanya masih lebih sedikit perasaan bersalah yang muncul ketika kita gagal berusaha untuk
"tidak mengurangi kepedihan seseorang"
ketimbang ketika kita gagal berusaha untuk
"tidak mengurangi kebahagiaan seseorang".
Karena untuk kasus kedua, lo memikul tanggung jawab.
Sebuah tanggung jawab untuk berusaha keras memastikan,
merencanakan,
juga menjaga.
Supaya harinya,
sempurna.
"Gue lagi sedih."
Mungkin lo akan berani menjawab begini :
"Kenapa? Sini lah share sama gue."
Lo tau, lo mungkin gak akan bener-bener merasa sedih juga. Karena dialah yang mengalami. Kalaupun dia ceritakan penyebab sedihnya, efeknya tidak akan sama pada diri lo. Tapi lo ingin ada bersama dia untuk, at least, sepersekian hari. Untuk setidaknya membuat dia lupa sedang ditempeli rasa sedih. Supaya setidaknya dia tidak ditempeli rasa sedih dan sepi sekaligus.
Tapi ketika dia bilang :
"Gue lagi bahagia."
Apa lo berani menjawab :
"Kenapa? Sini lah share sama gue."
Karena ketika seorang teman bilang begitu, lo tau bahwa mungkin lo nggak akan bener-bener merasa senang juga. Karena dialah yang mengalami. Kalaupun dia ceritakan penyebab kebahagiaannya, efeknya tidak akan sama pada diri lo. Tapi lo ingin ada bersama dia untuk, at least, sepersekian hari. Untuk setidaknya membuat dia tidak lupa sedang ditempeli kebahagiaan. Supaya setidaknya kebahagiaan dia benar-benar utuh, tanpa kecuali dan tanpa tapi.
Sekali lagi, apa lo berani berkata demikian pada kasus kedua?
Jangan takabur berkata bahwa itu adalah hal mudah. Kadang sesuatu yang lo remehkan adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa lo atasi.
Tanpa sadar, yang lebih mudah dan sering terjadi adalah kita
"mengurangi kebahagiaan seseorang",
dan bukan kita
"mengurangi kepedihan seseorang".
Rasanya masih lebih sedikit perasaan bersalah yang muncul ketika kita gagal berusaha untuk
"tidak mengurangi kepedihan seseorang"
ketimbang ketika kita gagal berusaha untuk
"tidak mengurangi kebahagiaan seseorang".
Karena untuk kasus kedua, lo memikul tanggung jawab.
Sebuah tanggung jawab untuk berusaha keras memastikan,
merencanakan,
juga menjaga.
Supaya harinya,
sempurna.
(dedicated for my 2 so-called twins bestfriend. Happy Birthday. tons of love.)



0 confused man:
Post a Comment